Oleh: Zahra Haifa, Peserta UI-SDP 2011 (Fakultas MIPA)
Kerutan di keningmu,
yang lambat laun semakin nampak terlihat
Tubuh yang semakin rapuh dimakan usia
Semua seperti tak kau pedulikan
Sungguh itulah letak kemuliaanmu
Yang rela kelaparan demi kenyangnya anakmu
Yang rela kedinginan untuk menyelimuti anakmu
Bahkan yang rela mati jika itu satu-satunya pilihan
Hanya demi anakmu seorang
Bekerja keras adalah kesehariannmu
Demi menggoreskan senyum kecil untuk buah hatimu
Ya Allah, ampunilah mereka, sayangilah mereka,
dan rahmatilah mereka
Di didunia dan di akhirat
Karya: Zahra haifa
Mungkin secarik puisi diatas tidak mampu mengimbangi bahkan hanya menggambarkan sedikit dari jasa-jasa yang telah orang tua berikan kepada saya. Namun karena peranan serta pengaruh merekalah saya bisa seperti ini. Bagi saya, mereka adalah sumber inspirasi, sumber motivasi dan sandaran bagi saya, tempat saya bercerita banyak hal, berdiskusi, bercanda, bahkan tempat berkeluh kesah akan ketakutan serta kebimbangan. Mereka adalah orang yang sangat saya cintai, yang selalu saya harapkan nasihatnya, belaiannya dan kasih sayangnya. Disadari atau tidak, setiap orang tua pasti ingin dan akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan anaknya, memajukannya dan membuatnya lebih baik dari dirinya sendiri. Setiap orang tua pasti selalu mendoakan akan keselamatan anaknya lebih sering dibandingkan dengan doa anak-anaknya kepadanya. Sosok mereka bagi saya layaknya dua utusan malaikat yang menjaga, mendidik dan melindungi bayi-bayi kecil yang rapuh di dunia ini. Ah, bahkan pengorbanan mereka layaknya fatamorgana yang terlihat samar, namun sebenarnya pengorbanan itu jauh tak terhingga. Bagi saya mereka adalah anugerah, harta yang tak disadari oleh beberapa orang, namunsaya sadar akan hal itu. Harta terbesar yang Allah berikan kepada saya.
Ayah dan Ibu, sosok-sosok luar biasa penuh pengabdian dan pengorbanan itu akan saya utarakan disini, meski hanya sedikit dan secercah kecil. Ayah, beliau adalah sosok yang gigih untuk mencari nafkah yang halal bagi keluarga. Sosok yang tegas dan jujur itu telah membuat saya selalu ingin menghormatinya. Ayah yang terkesan lebih memanjakan saya dibandingkan Ibu. Semenjak masuk sekolah dasar, hingga lulus SMA, ayah selalu mengantarkan saya ke sekolah dengan motor kesayangannya. Terlihat seperti anak kecil memang, jika kemana-mana diantar ayah. Tapi jujur saya sangat menyukainya, saya merasa bahwa itulah bentuk kasih sayang ayah terhadap saya. Beliaulah yang sangat mensuport saya untuk gigih belajar demi meraih kesuksesan, “sudah nak, jangan pikirkan biaya, nanti ayah usahakan…”. Kata-kata mulia itulah yang masih terngiang-ngiang dalam telinga saya jika mengingat sosok ayah. Ibu, manusia berakhlak mulia inilah yang mendidik saya, bagaimana cara bersikap, bagaimana cara melakukan sesuatu dengan benar, yang tak pernah bosan menasehati saya, walaupun dengan menjewer telinga atau mencubit, namun itu agar saya menuruti perkataannya. Ibu yang mengajarkan saya untuk sebisa mungkin hidup mandiri, mengajari saya memasak pun cara mengurusi rumah, berkebun dsb.
Puncak konflik yang pernah saya alami dengan orang tua adalah setahun yang lalu, dimana ayah dan ibu menegur saya karena saya yang jarang dirumah akibat padatnya kegiatan, kepanitiaan dan aktivitas organisasi lainnya yang membuat saya tidak mengenal hari libur. Ibu dan ayah saya jengkel dan sempat khawatir saya tidak akan lulus SPMB karena jarang belajar. Bahkan saya sampai ‘dikurung’ dirumah beberapa hari sebelum SPMB. Namun pada akhirnya saya telah membuktikan kepada mereka, masih sangat jelas senyuman lebar mereka saat saya dinyatakan diterima di UI.
Walau kini ibu saya telah tiada, beliau telah berpulang ke Rahmatullah tepat tiga hari sebelum saya daftar ulang untuk berkuliah di Universitas Indonesia, sungguh ini adalah cobaan terberat bagi saya. Karena Ibu adalah orang yang sangat saya sayangi. Wajah teduh Ibu selalu terbayang sebelum mata ini terpejam tidur, selalu terbesit disaat saya sedang terdiam. Mungkin karena saya sangat merindukan beliau yang sungguh begitu sangat penyayang dan lemah lembut, yang periang lagi murah senyum, yang sabar serta jarang mengeluh. Namun saya yakin, jika saya belajar dan tumbuh menjadi apa yang Ayah dan Ibu harapkan, pasti jauh disana Ibu akan tersenyum bangga melihat saya. Justru karena mereka selalu ada di hati saya, tekad saya untuk berbakti dan tidak mengecewakan mereka, tak akan pernah luntur, Insyaallah.